Selasa, 07 Desember 2010

Sarana Berpikir Ilmiah

Berpikir adalah suatu aktivitas untuk menemukan pengetahuan yang benar atau kebenaran. Dalam epistemologi diperlukan adanya sarana berpikir ilmiah. Sarana berpikir ilmiah adalah alat bagi metode ilmiah dalam melakukan fungsinya secara baik. Jadi fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah untuk mendapatkan ilmu atau teori yang lainnya.
Hal-hal yang diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah :
1.      Sarana berpikir ilmiah bukanlah ilmu, melainkan kumpulan-kumpulan pengetahuanyang didapat berdasarkan metode ilmiah.
2.      Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmu secara baik.
1.        BAHASA
Bahasa dicirikan sebagai berikut :
1.      Serangkaian bunyi yang digunakan sebagai alat komunikasi
2.      Lambang dari serangkaian bunyi yang membentuk arti tertentu.
Dengan bahasa manusia dapat mengkomunikasikan segenap pengalaman dan pemikiran mereka. Pengalaman dan pemikiran yang semakin berkembanag membuat bahasa semakin berkembang pula. Bahasa berfungsi sebagai berikut :
1.    Alat komunikasi atau fungsi komunikatif
Dalam fungsi ini terdapt tiga unsur bahasa yang digunakan untuk menyampaikan yaitu perasaan (unsur emotif), sikap (unsur afektif), buah pikiran (unsur penalaran).
2.    Alat budaya yang mempersatukan manusia yang mengunakan bahasa tersebut atau fungsi kohesif.
Perkembangan ilmu dipengaruhi oleh fungsi penalaran dan komunikasi bebas dari pengaruh unsur emotif. Sedangkan perkembangan seni dipengaruhi oleh unsur emotif dan afektif. Syarat komunikasi ilmiah adalah :
1.    Bahasa harus bebas emotif
2.    Reproduktif, artinya komunikasi harus dapat dimengerti oleh penerima.
Komunikasi ilmiah  bertujuan menyampaikan informasi berupa pengetahuan. Kekurangan bahasa terletak pada :
1.      Perananan bahasa yang multi fungsi. Artinya komunikasi ilmiah hanya menginginkan penyampian buah pikiran/penalaran saja, sedangkan bahasa verbal harus mengandung unsur emotif,afektif dan simbolik
2.      Arti yang tidak jelas dan eksak yang dikandung oleh kata-kata yang membangun bahasa
3.      Konotasi yang bersifat emosional

2.        LOGIKA
Logika adalah jalan pikiran yang masuk akal. Logika juga disebut sebagai penalaran. Penalaran adalah suatu proses penemuan kebenaran, dan setiap penalaran memiliki kriteria kebenaran masing-masing. Ciri-ciri penalaran adalah :
1.    Pola berpikir yang disebut dengan logika
2.    Analitis dalam berpikir
Logika lebih mementingkan bentuk logiknya, pernyataan-pernyataannya mempunyai sifat yang jelas. Dalam penalaran deduktif bentuk penyimpulan yang banyak digunakan adalah sistem silogisme. Dalam silogisme ada beberapa hukum yang perlu diikuti yang berkesimpulan tepatdan pasti kemudian dikemukakan bentuk logiknya. Hukum-hukum penyimpulan yang berbentuk silogisme ada dua kelompok :
(1)    Hukum berbentuk silogisme kategorik.
merupakan perumusan yang jika diungkapkan dalam bentuk diagram hanya ada satu bentuk, menggunakan prinsip persamaan, perbedaan, dan distribusi afirmatif. Misal : jika semua A adalah B, dan semua B bukanlah C, maka kesimpulannya semua A bukan C.
(2)    Hukum berbentuk silogisme majemuk.
merupakan silogisme yang jika diungkapkan dalam bentuk diagram setelah adanya penegasan, hanya ada satu kelompok yang dimaksudkan, dan akan dikemukakan bentuk logik penyimpulannya dengan menggunakan rumusan simbolik. Misalnya : barangsiapa memalsukan uang akan dituntut di muka hakim, dan si A sebagai terdakwa tidak dituntut di muka hakim, maka si A terbukti tidak memalsu uang.

3.        MATEMATIKA
Matematika adalah bahasa yang melambangkan serangkaian makna dari pernyataan yang ingin disampaikan. Lambang pada matematika bersifat artifisial yakni lambang itu mempunyai arti bila sudah diberi makna. Kekurangan yang ada dalam bahasa verbal dapat diatasi dengan menggunakan matematika dalam berkomunikasi ilmiah. Hal tersebut dapat dimungkinkan karena matematika bersifat :
1.    Jelas
2.    Spesifik
3.    Informatif
4.    Tidak emosional
Matematika mengembangkan bahasa kuantitatif, karena dapat melakukan pengukuran secara eksak.sifat kuantitatif dari matematika ini meningkatkan daya prediktif dan kontrol dari ilmu. Oleh sebab itu matematika dibutuhkan dalam setiap ilmu. Matematika mengembangkan cara berpikir deduktif artinya dalam melakukan penemuan ilmu dilakukan berdasarkan premis-premis tertentu. Pengetahuan yang ditemukan hanyalah didasari atas konsekuensi dari pernyataan-pernyataan ilmiah sebelumnya yang telah ditemukan.
Perkembangan ilmu dapat dibagi dalam tiga tahap yaitu :
1.    Tahap sistematika
Dalam tahap ini ilmu menggolongkan unsur-unsur empiris kedalam kategori tertentu.
2.    Tahap komparatif
Melakukan perbandingan antara objek yang satu dengan yang lain
3.    Tahap kuantitatif
Mencari hubungan sebab akibat
Matematika pada dasarnya merupakan pengetahuan yang disusun secara konsisten berdasarkan logika deduktif. Kebenaran dalam matematika tidak dibuktikan berdasarkan empiris melainkan secara penalaran deduktif.

4.        STATISTIKA
Konsep statistika sering dikaitkan dengan distribusi variabel yang ditelaah dalam populasi tertentu. Statistika sering digunakan dalam penelitian ilmiah. Ilmu dapat didefinisikan sebagai pengetahuan yang telah teruji kebenarannya. Suatu pernyaatan ilmiah adalah bersifat faktual dan konsekuensinya dapat teruji dengan baik dengan jalan menggunakan panca indera maupun menggunakan alat-alat yang membantu panca indera tersebut. Pengujian mengharuskan peneliti menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus yang bersifat individual. Penarikan kesimpulan tersebut berdasarkan logika induktif. Dipihak lain penarikan hipotesis merupakan penarikan kesimpulan yang bersifat khas dari pernyataan yang bersifat umum dengan menggunakan metode deduksi. Logika deduktif berpaling pada matematik dan logika induktif berpaling pada statistika.
Statistika mampu memberikan secara kuantitatif tingkat ketelitian dari kesimpulan yang ditarik tersebut, makin besar sampel yang diabil maka makin tinggi tingkat ketelitian kesimpulan tersebut. Statistika jugamemberikan kemampuan untuk mengetahui suatu hubungan kausalita antara dua faktor atau lebih yang bersifat kebetulan atau memang terkait dalam hubungan yang bersifat empiris.
Statistika merupakan sarana berpikir ilmiah yang diperlukan untuk memproses pengetahuan secara ilmiah. Statistika membantu melakukan proses generalisasi dan menyimpulkan karakteristik suatu kejadian secara pasti dan bukan terjadi secara kebetulan.



DAFTAR PUSTAKA

Kattsoff, L.O. 1992. Pengantar Filsafat: Penerjemah Soejono Soemargono. Yogyakarta. Tiara Wacana Yogya.
Suriasumantri, Jujun S, 2000.  Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Cetakan XIII. Sinar Harapan Jakarta.